Haram Membiarkan Rakyat Menderita

HARAM MEMBIARKAN RAKYAT MENDERITA!

Oleh : Abdul Hanif (Asep Kurniawan)

(seingat saya ini merupakan tulisan antara tahun 2008/2009 yang pernah dimuat di HU Pikiran Rakyat)

Beberapa waktu yang lalu masyarakat Indonesia tengah digemparkan oleh fatwa terbaru dari MUI yang terkait dengan masalah maraknya fenomena pengemis dewasa ini. Fatwa MUI tersebut secara tegas menyatakan haramnya mengemis. Tentu saja hal tersebut menjadi sebuah pukulan yang luar biasa bagi kalangan para pengemis baik mengemisnya memang karena kebutuhan mendesak untuk memenuhi perut yang keroncongan atau mengemis karena memang sudah menjadi profesi karena tidak adanya ketersediaan lapangan pekerjaan yang memadai. Fatwa MUI tersebut sedikit-banyak telah menuai pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat terutama dari kalangan para pengemis itu sendiri, bahkan tidak sedikit yang mengeluh karena penghasilan mengemisnya menurun drastis pasca digulirkannya fatwa pengharaman mengemis tersebut. Sejumlah masyarakat pun yang masih memiliki rasa iba terhadap para pengemis setidaknya memperlihatkan kekurang setujuan terhadap dikeluarkannya fatwa tersebut. Namun disatu sisi, sejumlah masyarakat lainnya menyambut baik fatwa tersebut, pasalnya selama ini mereka merasa terganggu dengan semakin menjamurnya profesi pengemis, tidak hanya diperkotaan tapi juga sampai menjalar ke wilayah perkampungan.

Pro-kontra dikalangan masyarakat seputar fatwa MUI tersebut tentu saja sangat beralasan. Alasan paling utama adalah bahwa keluarnya fatwa haramnya mengemis dari MUI tersebut tidak disertai dengan solusi yang tepat untuk menggantikan profesi mengemis tersebut dengan kata lain tidak diikuti dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang memadai untuk menyambung hidup mereka. Lantas siapakah yang salah dan siapa semestinya yang harus bertanggung jawab atas kebutuhan pokok mereka (para pengemis)?

Fakta

Kehidupan masyarakat dewasa ini memang serba sulit, mereka harus banting tulang serta kerja ekstra hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokok mereka, menafkahi anak istri dan keluarga, menyediakan tempat tinggal untuk berteduh serta pakaian untuk melindungi tubuh dari panas terik matahari dan dinginnya udara malam. Namun, disisi lain ketersediaan lapangan pekerjaan yang sejatinya bisa mereka gunakan untuk mengais rezeki tidak tersedia dengan baik, sehingga mereka yang tidak kebagian jatah lapangan pekerjaan terpaksa harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan pokonya, salah satu adalah dengan mengemis, memohon dan mengharap pemberian sesuap nasi kepada mereka yang berada dan bergelimpangan harta.

Kondisi tersebut terpaksa harus menyeret mereka ke lembah kemiskinan yang sebetulnya tidak mereka harapkan sama sekali. Ini adalah fakta kehidupan mayoritas rakyat Indonesia saat ini yang katanya kaya dengan sumber daya alam.

Akar permasalahan

Fakta bahwa banyaknya rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan tidak bisa disangkal lagi. Keterpaksaan mereka mengambil jalan mengemis demi memenuhi kebutuhan pokok mereka menjadi bukti kuat tentang bagaimana terpuruknya bangsa ini. Maraknya pengemis saat ini sangat jelas masalahnya yaitu karena tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai bagi mereka dan masalah ini belum dijadikan masalah utama oleh para penguasa negeri ini, mereka hanya baru bisa berbicara soal penertiban, tapi belum bisa memberikan solusi riil bagi permasalahan rakyat miskin dewasa ini. Sulitnya lapangan pekerjaan saat ini karena kesalahan sistem dan mekanisme ekonomi yang diterapkan.

Perekonomian bangsa Indonesia saat ini pengelolaanya tengah diserahkan kepada sistem pengelolaan kapitalis yang nyata-nyata sebuah sistem yang sampai kapanpun tidak akan pernah memihak pada rakyak banyak terlebih bisa mensejahterakan bangsa ini. Inilah akar masalah yang tengah menimpa bangsa Indonesia dewasa ini.

Dari sini jelas, kenapa kemudian di negeri ini praktek mengemis menjamur, yaitu karena ketidak tersediaan lapangan pekerjaan yang memadai bagi mereka.

Solusi

Permasalahan kaum pengemis ini sampai kapanpun tidak akan pernah selesai hanya dengan sekedar mengeluarkan fatwa haramnya mengemis, tapi harus ada solusi yang nyata yaitu solusi yang bisa membuat hidup mereka menjadi sejahtera, dan ini jelas menjadi tanggung jawab para penguasa karena fungsi penguasa adalah sebagai pengayom (ri’ayah) bagi rakyatnya. Maka hal yang harus dilakukan oleh para penguasa bangsa ini adalah dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang memadai, sehingga mereka — para pengemis—bisa bekerja dengan layak dan terhormat.

Selain itu juga para penguasa bangsa ini harus berani membuang jauh sistem pengelolaan ekonomi kapitalis dan diganti dengan sistem ekonomi alternatif yaitu sistem ekonomi islam yang nyata-nyata telah mampu mensejahterakan rakyat.

Membiarkan rakyat menjadi pengemis adalah sebuah bentuk keharaman yang sangat jelas sekaligus menunjukkan ketidak pedulian para penguasa bangsa ini terhadap nasib rakyatnya. Bagaimana tidak, melindungi rakyat dari marabahaya (dhoror) adalah kewajiban penguasa termasuk bahaya kemiskinan beserta turunannya. Jadi semestinya fatwa yang tepat dikeluarkan dalam kondisi seperti ini adalah bukannya “haram mengemis” tapi “haram membiarkan rakyat jadi pengemis”, karena kondisi sekarang dengan diterapkannya sistem sekuler kapitalis oleh para penguasa bangsa ini merupakan upaya memiskinkan dan membunuh rakyat secara sistematis.

Selama ini rakyat telah dibiarkan miskin, para penguasa akan dekat dengan rakyat jika hanya menjelang Pemilu saja. Orang-orang dibiarkan mengemis, tidur di trotoar jalan beralaskan koran dan kardus, berlantaikan tanah, beratapkan langit dan ditemani bintang-bintang di langit, serta mengisi perut keroncongan mereka dengan sesuap nasi basi dari tong sampah.

Jadi menurut hemat saya, fatwa MUI yang mengharamkan mengemis itu kurang relevan, alasannya :

Pertama, fatwa tersebut tidak disertai dengan solusi untuk mengatasi permasalahan kebutuhan pokok mereka, yaitu ketertersedianya lapangan pekerjaan yang memadai.

Kedua, dengan adanya fatwa tersebut berarti secara tidak langsung sudah membatasi wilayah seseorang untuk beramal dengan shadaqah? Bukankah Islam tidak pernah membatasi seseorang untuk bershadaqah baik itu kepada orang miskin, pengemis, bahkan kepada orang yang berkecukupan sekalipun. Bahkan Islam telah memerintahkan ummatnya untuk memperbanyak sedekah baik dalam keadaan lapang maupun sempit, terlebih pada bulah suci Ramadhan yang mulia ini. Jika tidak, akan berlaku Sabda Rasulullah SAW :

<<من أصبح ولم يهـتم بأمر المسلمين فليـس منهم>>

“barangsiapa yang bangun pada pagi hari sementara ia tidak memperhatikan urusan/kebutuhan kaum muslimin maka ia bukan termasuk golongan kaum muslimin”.

Ketiga, Fatwa tersebut dengan sengaja atau tidak akan membuat kehidupan para pengemis dan orang-orang miskin jauh lebih miskin dan menderita karena rantai nafkah mereka telah diputus. Jika begitu fatwa tersebut secara tidak langsung telah sejalan dengan tujuan sistem kapitalis untuk memiskinkan dan membunuh rakyat secara sistematis.

Na’udzubillahi min dzalik, masya allah !

Semoga kita selalu termasuk kedalam golongan orang-orang yang selalu memperhatikan dan memenuhi kebutuhan orang lain yang nyata-nyata sedang membutuhkan pertolongan kita, amiin.

Wallahu a’lam bishshawab.

Penulis : Staff pengajar di salah satu sekolah swasta di Kab. Bandung, Aktifis Hizbut Tahrir Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s